Minggu, 27 Agustus 2017

ANALISIS KESEHATAN LINGKUNGAN DI PERUSAHAAN KONSTRUKSI



Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada beberapa area. Secara ringkas konstruksi didefinisikan sebagai objek keseluruhan bangunan yang terdiri dari bagian-bagian struktur.

A.      Lingkungan pekerja
Program kesehatan kerja merupakan suatu hal yang penting dan perlu diperhatikan oleh pihak kontraktor. Karena dengan adanya program kesehatan yang baik akan menguntungkan para pekerja secara material, karena pekerja akan lebih jarang absen, bekerja dengan lingkungan yang lebih menyenangkan, sehingga secara keseluruhan pekerja akan mampu bekerja lebih lama. Kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stress emosi atau gangguan fisik. Kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.
Dalam bekerja diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja. Adapun usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
1.        Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna ruangan kerja, penerangan yang cukup terang dan menyejukkan, dan mencegah kebisingan.
2.        Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit.
3.        Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian lingkungan kerja.
Perusahaan konstruksi memperhatikan kesehatan pekerja untuk memberikan kondisi kerja yang lebih sehat, serta menjadi lebih bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan tersebut, terutama bagi perusahaan konstruksi yang mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi.
Sebab yang memungkinkan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerjanya yaitu :
a.         Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
-          Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang diperhitungkan keamanannya.
-          Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
-          Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
-          Pengaturan Udara
-          Pergantian udara diruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu, dan berbau tidak enak).
-          Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya

b.         Pengaturan Penerangan
-          Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
-          Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
c.         Pemakaian Peralatan Kerja
-          Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
-          Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik.
d.        Kondisi Fisik dan Mental Pekerja
-          Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang usang atau rusak.
-          Emosi pekerja yang tidak stabil, kepribadian pekerja yang rapuh, cara berfikir dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pekerja yang ceroboh, kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja terutama fasilitas kerja yang membawa resiko.
Tak hanya itu, kesehatan kerja dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain.

B.       Lingkungan sekitar
1.         Dampak pembersihan lahan
Terganggunya ekosistem di lahan yang disebabkan oleh penebangan pohon-pohon di lingkungan lahan tersebut. Yang kemudian mengharuskan pohon yang sudah ditebang harus dibakar. Asap dari pembakaran inilah yang dapat menimbulkan dampak perubahan lingkungan yakni polusi udara.
2.         Penurunan Kualitas Udara
Dampak terhadap komponen kualitas udara berupa peningkatan emisi gas buang dan pencemaran debu yang diakibatkan oleh pekerjaan tanah dan pengangkutan material. Peningkatan emisi gas buang di timbulkan oleh adanya penambahan lalulintas akibat bangkitan lalulintas kegiatan pembangunan rata-rata ± 689 kendaraan/hari untuk setiap ruas, sedang pencemaran debu ditimbulkan oleh pengangkutan material dan penggusuran tanah berpontesi menimbulkan debu. Debu timbul akibat kendaraan pengangkut tanah menjadi jalur lintasan kendaraan kegiatan pembangunan.
Konsep mitigasi untuk penanganan dampak dilakukan melalui pendekatan tekhnologi, dengan arahan penanganan sebagai berikut:
a)      Melakukan penyiraman secara berkala di lokasi kegiatan pembangunan untuk mengurang hamburan debu.
b)      Para pekerja menggunakan penutup hidung (masker)
c)      Menutup bak truk pengangkut material dengan terpal atau kanvas
d)      Memeliahara peralatan dan kendaraan kegiatan pembangunan untuk mengurangi pencemaran dari emisi gas buang.
3.         Tahap kontruksi proyek tentunya akan menyisakan tumpukan sampah. Tumpukan sampah pada tahap kontruksi adalah berupa sampah anorganik seperti kaleng bekas, karung semen, potongan besi, plastik,  dan lain-lain. Sampah anorganik merupakan jenis sampah yang sulit atau tidak dapat terurai oleh bakteri. Selain merusak pandangan dan mengurangi estetika, penumpukan sampah  ini juga akan menyebabkan munculnya berbagai jenis agent atau sumber penyakit yang dapat menurunkan derajat kesehatan di lingkungan sekitar.
4.         Pembangunan secara otomatis akan menyebabkan berkurangnya lahan pertanian sekaligus area penghijauan yang berpengaruh terhadap kualitas udara mengingat bahwa tumbuhan merupakan penghasil gas yang paling dibutuhkan manusia dan hewan yaitu oksigen. Selain itu, berkurangnya lahan pepohonan juga akan mengurangi absorbsi air ke dalam tanah sehingga kuantitas dan kualitas air tanah juga menurun.
5.          Meningkatkan Kebisingan
Sumber dampak meningkatnya kebisingan adalah kegiatan pengoperasian base camp, pekerjaan tanah dan pekerjaan struktur bangunan bawah kebisingan berupa peningkatan suara alat berat pada tahap konstruksi, alat berat ini digunakan pada pekerjaan tanah dan pemancangan tiang pondasi. Pada pengoperasian Base Camp, kebisingan terjadi akibat mobilisasi, demobilisasi alat berat serta pemeliharaan alat berat base camp.
Konsep mitigasi untuk penanganan dampak dilakukan melalui pendekatan teknologi, dengan arahan penanganan sebagai berikut:
a)      Pengaturan pekerjaan yang menimbulkan kebisingan tinggi (pemancangan tiang pancang fondasi) dilakukan antara pukul 08.00 – 17.00.
b)      Menggunakan peralatan dan kendaraan angkutan yang kondisinya masih baik (tidak menimbulkan kebisingan yang tinggi).
c)      Para pekerja menggunakan earplug untuk menghindari ketulian sesaat
d)      Memasang pagar pembatas dengan seng setinggi 3 m atau bahan sejenisnya.
e)      Mengoperasikan peralatan yang menimbulkan kebisingan jauh dari pemukiman dan fasilitas umum
f)       Untuk konstruksi pondasi menggunakan pondasi langsung, sumuran atau bored pile sesuai kedalaman tanah kerasnya.
6.           Gangguan Getaran
Dampak gangguan getaran terjadi pada tahap konstruksi. Getaran ini di akibatkan oleh pekerjaan pemancangan. Getaran ini bisa menimbulkan retak atau robohnya dinding bangunan serta menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat disekitarnya. Dampak bisa merembet ke komponen sosial ekonomi dan kessehatan masyarakat.
Konsep mitigasi untuk penangan dampak dilakukan melalui pendekatan teknologi yaitu:
a)      Pada daerah yang rawan terhadap getaran, pelaksanaan tiang pancang, diusahaka dengan menggunakan bored pile khususnya di lokasi pemukiman padat.
b)      Pada saat disain konstruksi jalan perlu disain stuktur yang mempertimbangkan masalah getaran.
7.            Meningkatkan penderita ISPA
Dampak penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) diakibatkan oleh banyaknya polutan debu di udara akibat adanya pekerjaan konstruksi.
Komponen kegiatan yang memberikan konstribusi terhadap timbulnya dampak penting ini adalah kegiatan pengangkutan material dan pekerjaan tanah baik galian maupun timbunan tanah. Penyakit ISPA bisa terjadi sepanjang masa konstruksi khususnya pada kegiatan angkutan material lebih kurang selama 18 bulan. Dampak ini bisa merembet ke komponen lingkungan lain yaitu komponen social.
Alternatif upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah:
a)      Melakukan penyiraman secara berkala di lokasi kegiatan pembangunan untuk mengurangi hamburan debu yang menjadi penyebab utama penyakit ISPA
b)      Para Pekerja menggunakan penutup hidung (masker) untuk mencegah masuknya debu ke saluran pernapasan.
c)      Menutup bak truk kendaraan pengangkut material dengan terpal atau kanvas untuk mencegah debu berhamburan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH KRITERIA JIWA KEAGAMAAN

BAB II PEMBAHASAN I. KRITERIA YANG MATANG BERAGAMA A. Pengertian Matang Beragama Manusia mengalami dua macam perkembangan yaitu ...